ASKEB IV

 ANEMIA DALAM KEHAMILAN

2.1        Pengertian

Anemia adalah kondisi dimana sel darah merah menurun atau menurunnya hemoglobin, sehingga kapasitas daya angkut oksigen untuk kebutuhan organ-organ vital pada ibu dan janin menjadi berkurang. Selama kehamilan, indikasi anemia adalah jika konsentrasi hemoglobin kurang dari 10,50 sampai dengan 11,00 gr/dl (Varney H, 2006).

Anemia pada wanita hamil jika kadar hemoglobin atau darah merahnya kurang dari 10,00 gr%. Penyakit ini disebut anemia berat. Jika hemoglobin < 6,00 gr% disebut anemia gravis. Jumlah hemoglobin wanita hamil adalah 12,00-15,00 gr% dan hematokrit adalah 35,00-45,00% (Mellyna, 2005).

Anemia dalam kandungan ialah kondisi ibu dengan kadar Hb < 11,00 gr%. Pada trimester I dan III atau kadar Hb < 10,50 gr% pada trimester II. Karena ada perbedaan dengan kondisi wanita tidak hamil karena hemodilusi terutama terjadi pada trimester II (Sarwono P, 2002).

Anemia ditandai dengan rendahnya konsistensi hemoglobin (Hb) atau hematokrit nilai ambang batas (referensi) yang disebabkan oleh rendahnya produksi sel darah merah (eritrosit) dan Hb, meningkatnya kerusakan eritrosit (hemolisis), atau kehilangan darah yang berlebihan. (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 2007 : 201)

 

2.2        Klasifikasi

Anemia dalam kehamilan dapat dibagi sebagai berikut :

2.2.1    Anemia Defisiensi Besi

Anemia dalam kehamilan yang paling sering ditemukan ialah anemia akibat kekurangan besi, yang disebabkan karena kurang masuknya unsur besi dengan makanan, karena gangguan resorpsi, gangguan penggunaan atau karena terlamapu banyaknya besi keluar dari badan, misalnya pada perdarahan. (Wiknjosastro, 2005 : 451) 

2.2.2   Anemia Megaloblastik

Anemia megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam folik, jarang sekali karena defisiensi vitamin B12, hal ini berhubungan erat dengan defisiensi makanan. (Wiknjosastro, 2005 : 453)

2.2.3   Anemia Hipoplastik

Anemia hipoplastik pada wanita hamil disebabkan karena sumsung tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru. (Wiknjosastro, 2005 : 456)

2.2.4   Anemia Hemolitik

Anemia hemolitik dapat disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatannya. Wanita dengan anemia homolitik sukar menjadi hamil, apabila hamil maka anemia biasanya bertambah berat. (Wiknjosastro, 2005 : 457)

 

2.3        Etiologi

Penyebab utama anemia pada wanita adalah kurang memadainya asupan makanan sumber Fe, meningkatnya kebutuhan Fe saat hamil dan menyusui (kebutuhan fisiologis), dan kehilangan banyak darah saat menstruasi.

2.3.1   Asupan Fe Yang Tidak Memadai

Kecukupan intake Fe tidak hanya dipenuhi oleh konsumsi makanan sumber Fe (daging sapi, ayam, ikan, telur, dll), tetapi dipengaruhi oleh variasi penyerapan Fe. Yang membentuk 90 % Fe dari makanan nondaging (termasuk biji-bijian, sayuran, buah, telur) tidak mudah diserap oleh tubuh. 

2.3.2   Peningkatan kebutuhan fisiologi

Kebutuhan Fe meningkat selama hamil untuk memenuhi kebutuhan Fe akibat peningkatan volume darah, untuk menyediakan Fe bagi janin dan plasenta, dan untuk menggantikan kehilangan darah saat persalinan.

2.3.3   Kehilangan banyak darah

Kehilangan darah terjadi melalui operasi, penyakit dan donor darah. Pada wanita kehilangan darah terjadi melalui menstruasi dan wanita hamil mengalami perdarahan saat dan setelah melahirkan. Praktik ASI tidak eksklusif diperkirakan menjadi salah satu predictor kejadian anemia setelah melahirkan. Perdarahan patologi akibat penyakit/infeksi parasit seperti cacingan dan saluran pencernaan berhubungan positif terhadap anemia. Perdarahan gastrointestinal oleh adanya luka di saluran gastrointestinal (gastritis, tukak lambung. Kanker kolon dan polip pada kolon). (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 2007 : 205) 

 

Sebagian besar anemia adalah anemia defesiensi Fe yang dapat disebabkan oleh konsumsi Fe dan makanan yang kurang atau terjadi perdarahan menahun akibat parasit. Berdasarkan fakta tersebut dapat dikemukakan bahwa dasar utama anemia pada ibu hamil adalah kemiskinan dan tidak mampu memenuhi standar makanan 4 sehat 5 sempurna dan lingkungan yang buruk sehingga masih terdapat penyakit parasit, seperti ankilostomiasis. (Manuaba, 2007 : 38)

 

2.4        Patofisiologi

Normalnya, terjadi punurunan kadar Hb dalam kehamilan (penurunan ringan dikaitkan dengan peningkatan berat badan dan kesejahteraan janin) karena volume plasma bertambah lebih cepat daripada volume sel darah merah sehingga terjadi pengenceran (terutama pada kehamilan multipel). Defisiensi zat besi lazim terjadi pada kehamilan akibat peningkatan kebutuhan zat besi karena peningkatan sel darah merah, pembentukan jaringan baru (misal: miometrium) dan kebutuhan janin. Laktasi menyebabkan peningkatan kebutuhan zat besi, dan dikaitkan dengan suatu angka kejadian anemia yang lebih tinggi  diperiode pascapartum. (Datta, 2010 : 6)

Darah bertambah banyak dalam kehamilan, yang lazim disebut hidremia atau hipervolemia. Akan tetapi, bertambahnya sel-sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma, sehingga terjadi pengenceran darah. Perbandingannya tidak seimbang yakni plasma bertambah 30%, sel darah 18%, dan hemoglobin 19%.

Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri secara fisiologi dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita hamil oleh karena pengenceran itu meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa hamil, karena sebagai akibat hidremia cardiac output meningkat. Kerja jantung lebih ringan apabila viskositas darah rendah. Resistensi perifer berkurang pula, sehingga tekanan darah tidak naik.

Kemudian, pada perdarahan waktu persalinan banyaknya unsur besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan apabila darah itu tetap kental. Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah mulai sejak kehamilan umur 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu (Winkjosastro, 2005 : 448).

 

2.5        Tanda dan Gejala

Walaupun lebih sering tidak diserta gejala akan tetapi anemia dapat disertai tanda dan gejala sebagai berikut :

a)      Merasa lelah dan sering mengantuk oleh karena rendahnya Hb dan kurangnya oksigen, sehingga kurang transport untuk metabolisme dalam tubuh.

b)      Merasa pusing dan lemah (dizness dan weaknes) oleh kurangya oksigen dan energi menyebabkan ibu merasa lemah dan capek.

c)      Mengeluh sakit kepala

d)     Merasa tidak enak badan (malaise) dan nafas pendek karena menurunnya suplay darah.

e)      Perubahan mood dan kebiasaan tidur.

f)       Mengeluh lidah mudah luka (lecet)

g)      Pucat pada membrane mukosa dan konjungtiva

h)      Kulit pucat

i)        Pucat pada kuku jari.

j)        Ikterus.

k)      Takipnea, dispnea saat beraktivitas.

l)        Nafsu makan kurang perubahan dalam kesukaan makanan.

m)    Kebiasaan akan makanan yang aneh-aneh atau mengidam (pica). (varney, 2006 : 127)

 

2.6        Pengaruh Anemia Terhadap Ibu dan Janin

2.6.1   Pengaruh terhadap kehamilan

2.6.1.1  Bahaya selama kehamilan

  1. Dapat terjadi abortus
  2. Persalinan prematures
  3. Hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim.
  4. Mudah terjadi infeksi.
  5. Ancaman dekompensasi kordis (Hb < 6gr%)
  6. Molahidatidosa
  7. Hiperemesis gravidarum.
  8. Perdarahan antepartum
  9. Ketuban pecah dini (KPD).

2.6.1.2  Bahaya saat persalinan

  1. Gangguan his, kekuatan mengejan.
  2. Kala pertama berlangsung lama dan terjadi partus terlantar.
  3. Kala dua berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan.
  4. Kala tiga dapat diikuti retensio placenta, dan pendarahan postpartum sekunder dan atonia uteri.
  5. Kala empat, dapat terjadi pendarahan post partum sekunder dan atonia uteri.

2.6.1.3  Pada masa nifas.

  1. Terjadi subinvolusio uteri yang menimbulkan pendarahan postpartum.
  2. Memudahkan infeksi dan sepsis puerperium.
  3. Pengeluaran ASI berkurang.
  4. Terjadi dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan.
  5. Anemia kala nifas.
  6. Mudah terjadi infeksi mammae.

2.6.2   Pengaruh terhadap janin.

Sekalipun tampaknya janin mampu menyerap berbagai kebutuhan dari ibunya, dengan adanya anemia kemampuan metabolisme tubuh akan berkurang sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Akibat anemia pada janin antara lain :

  1. a.      Abortus
  2. b.      Kematian intra uteri.
  3. Persalinan prematuritas tinggi.
  4. BBLR (Berat Badan Lahir Rendah)
  5. Kelahiran dengan anemia.
  6. Dapat terjadi cacat bawaan.
  7. Bayi mudah mendapat infeksi sampai kematian perinatal.
  8. Intelegensi rendah. (Manuaba, 2007 : 38)

2.7        Diagnosis Anemia

Untuk menegakkan diagnosa anemia pada kehamilan, dapat dilakukan anamnesis dimana akan didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang dan keluhan mual muntah yang lebih hebat pada kehamilan muda.

Pemeriksaan darah dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan, yaitu pada triwulan I dan triwulan III, dengan pertimbangan bahwa sebagian besar ibu hamil mengalami anemia. Dari hasil pemeriksaan Hb dengan alat sahli, kondisi Hb dapat digolongkan sebagai berikut :

a)      Normal                                : 11 gr% atau lebih

b)      Anemia ringan                    :  9 – 10,9 gr%

c)      Anemia sedang                   :  7 – 8,9 gr%

d)     Anemia Berat                     :  < 7 gr% . (Manuaba, 2007: 38)

Menurut DepKes RI tahun 2000, klasifikasi anemia sebagai berikut:

a)      Anemia ringan                   : Hb 10-11 gr% / dl

b)      Anemia sedang                  : Hb 8-10 gr% / dl

c)      Anemia berat                     : Hb < 8 gr% / dl

Anemia menurut WHO digolongkan sebagai berikut:

a)      Normal                             :  > 11 gr %

b)      Anemia Ringan                :  8-11 gr %

c)      Anemia Berat                   :  < 8 gr %

 

2.8        Pencegahan

Untuk menghindari terjadinya anemia sebaiknya ibu hamil melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum hamil sehingga dapat diketahui data-data dasar kesehatan umum calon ibu tersebut. Dalam pemeriksaan kesehatan disertai pemeriksaan laboratorium termasuk pemeriksaan tinja sehingga diketahui adanya infeksi parasit. (Manuaba, 2007 : 39)

Di daerah-daerah dengan frekuensi kehamilan yang tinggi sebaiknya setiap wanita hamil diberi sulfas ferrosus atau glukonas ferrosus, cukup satu tablet sehari. Selain itu wanita dinasehatkan pula untuk makan lebih banyak protein dan sayur-sayuran yang mengandung banyak mineral serta vitamin. (Wiknjosastro, 2006 : 453)

2.9        Pengobatan

2.9.1   Anemia ringan

Pada kehamilan dengan kadar Hb 9-10,9 gr% masih dianggap ringan sehingga hanya perlu diberikan kombinasi 60 mg/hari dan 50 µg asam folat per oral sekali sehari. Hb dapat dinaikkan sebanyak 1 g% per bulan.  (Saifuddin, 2006 : 282)

2.9.2   Anemia sedang

Pengobatan dapat dimulai dengan preparat besi per os. Biasanya diberikan garam besi sebanyak 600-1000 mg sehari, seperti sulfas-ferrosus atau glukonas ferrosus. Hb dapat dinaikkan sampai 10 g/100 ml atau lebih asal masih ada cukup waktu sampai janin lahir. (Winkjosastro, 2006 : 452)

2.9.3   Anemia berat

Pemberian preparat parenteral yaitu dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 ml) intravena atau 2 x 10 ml/im pada gluteus, dapat meningkatkan Hb relative lebih cepat yaitu 2 gr%. Transfusi darah sebagai pengobatan anemia dalam kehamilan sangat jarang diberikan (walaupun Hbnya kurang dari 6 g%), apabila terjadi perdarahan. ( Saifuddin, 2006 : 282)

Pengobatan berdasarkan klasifikasi anemia:

  1. Anemiadefisiensi Zat Besi

Penatalaksaan : 

  1. Skrining rutin

1)      Pada kunjungan awal, tanyakan tentang riwayat anemia atau masalah pembekuan darah sebelumnya.

2)      Minta hitung darah lengkap pada kunjungaan awal.

3)      Diskusikan pentingnya mengonsumsi vitamin prenatal (disertai zat besi).

4)      Periksa ulang Ht pada 28 minggu kehamilan.

  1. Terapi anemia:

1)      Terapi oral ialah dengan pemberian : fero sulfat, fero gluconat, atau Na-fero bisitrat.

2)      Bila Hb <10 g/dl dan Ht <30%, lakukan tindakan berikut:

a)    Berikan konseling gizi.

  1. Tinjau diet pasien.
  2. Diskusikan sumber-sumber zat besi dalam diet.
  3. Berikan kepada pasien selebaran mengenai makanan tinggi zat besi.
  4. Rujuk ke ahli gizi.

b)   Sarankan suplemen zat besi sebagai tambahan vitamin paranatal. Kebutuhan zat besi saat kehamilan adalah 60 mg unsure zat besi.

  1. Tablet zat besi time-release merupaka pilihan terbaik, namun lebih mahal. Setiap sediaan garam zat besi standar sudah mencukupi kebutuhan zat besi.
  2. Minum 1-3 tablet per hari dalam dosis yang terbagi.
  3. Zat besi diabsorbsi lebih baik pada keadaan lambung kosong. Minum 1 jam sebelum makan atau 2 jam sesudahnya.
  4. Vitamin C membantu absorbs zat besi. Minum zat besi disertai jus yang tinggi vitamin C atau tablet vitamin C.
  5. Antasid dan produk susu dapat mengganggu absorbs zat bes
  6. Lebih baik mengkonsumsi zat besi bersama antasid atau makanan daripada tidak mengkonsumsi sama sekali.

c)    Bila Hb <9 g/dl dan Ht <27% pertimbangkan anemia megaloblastik. Kelola pasien ini menurut panduan terapi anemia.

  1. Bila kadar Hb <9 g/dl dan Ht ≤27% saat mulai persalinan, pertimbangkan pemberian cairan IV atau heparin lock saat persalinan.
  2. Pemberian preparat 60 mg/hari dapat menaikkan kadar Hb sebanyak 1 g%/bulan. Efek samping pada traktus gastrointestinal relatif kecil pada pemberian preparat Na-fero bisitrat dibandingkan dengan ferosulfat.
  3. Kini program nasional mengajukan kombinasi 60 mg besi dan 50µg asam folat untuk profilaksis anemia.
  4. Pemberian preparat parenteral yaitu dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 ml) intravena atau 2 x 10 ml/im pada gluteus, dapat meningkatkan Hb relatif lebih cepat yaitu 2 g%. Pemberian parenteral ini mempunyai indikasi : intoleransi besi pada gastrointestinal, anemia yang berat, dan kepatuhan yang buruk. Efek samping utama ialah reaksi alergi, untuk mengetahuinya dapat diberikan dosis 0,5 cc/im dan bila tak ada reaksi, dapat diberikan seluruh dosis.
  5. Anemia Megaloblastik.

Penatalaksanaan :

  1. Suplemen

1)      Vitamin prenatal yang mengandung asam folat dan zat besi

2)      Satu sampai dua milligram asam folat per hari untuk memperbaiki defisiens asam folat.

3)      Suplemen zat besi, dengan pertimbangan bahwa anemia megaloblastik jarang terjadi tanpa anemia defisiensi zat besi.

  1. Konseling gizi

1)      Kaji diet pasien

2)      Rekomendasikan sumber-sumber asam folat dalam diet

3)      Rujuk ke ahli gizi

  1. Hitung darah lengkap

1)      Ulangi hitung darah lengkap dalam 1 bulan.

2)      Perhatikan adanya peningkatan hitung retikulosit sebesar 3-4% dalam 2-3 minggu, dan sedikit peningkatan pada hitung Hb dan Ht.

  1. Anemia hemolitik didapat (acquired hemolytic anemia)

Penatalaksanaan :

  1. Skrining: Pasien keturunan Afrika-Amerika yang mengalami anemia atau kerap mengalami infeksi saluran kemih (ISK) berulang harus menjalani skrining G6PD.
  2. Terapi

1)      Resepkan 1 mg asam folat setiap hari.

2)      Berikan daftar obat-obatan yang perlu dihindari.

3)      Bila pasien hamil, lakukan kultur dan sensitivitas (culture and sensitivity, C&S) urine bulanan.

4)      Konsultasikan dengan dokter bila pasien dalam keadaan krisis atau mengalami anemia berat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: