kehamilan dengan penyakit gangguan jiwa

1.KONSEP TEORI

v  KEHAMILAN DENGAN PENYAKIT GANGGUAN JIWA

1.DEPRESI

Depresi adalah gangguan psikologi dan emosional yang disebabkan karena rendahnya tingkat ketidakmatangan dalam perkembangan emosional dan psikososial, dengan derajat ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan situasi yang dihadapi.

Depresi selama kehamilan merupakan gangguan mood yang sama halnya dengan depresi yang terjadi pada orang awam pada umumnya yang muncul pada 1 dari 4 wanita yang sedang hamil dan hal ini bukan sesuatu yang istimewa. Pada kejadian depresi akan terjadi perubahan kimiawi pada otak. Dalam hal ini perubahan hormonal pada saat kehamilan akan mempengaruhi kimiawi otak itu sendiri, yang nantinya akan sangat berhubungan erat dengan kejadian depresi dan kecemasan selama kehamilan.
            Penyakit ini selalu melanda mereka yang sedang hamil, tetapi sering dari mereka tidak pernah menyadari depresi ini karena mereka menganggap kejadian ini merupakan hal yang lumrah terjadi pada mereka, padahal jika tidak ditangani dengan baik dapat mempengaruhi bayi yang dikandungnya.
            Depresi pada kehamilan akan bisa bisa dihindarkan melalui dukungan psikologis yang kuat dari keluarga, memberikan kasih sayang dan empati pada masa kehamilan awal.

 Dukungan psikologis dan perhatian akan memberikan dampak signifikan pada kehidupan sosial seperti (keharmonisan, penghargaan, pengorbanan, kasih sayang dan empati) pada wanita hamil, agar tidak mengalami depresi pada kehamilan awal mereka.

Beberapa faktor utama penyebab depresi:

  1. Kehamilan yang tidak diharapkan
  2. Hamil di luar nikah
  3. Faktor ekonomi
  4. Faktor ketidakbahagiaan dalam rumah tangga
  5. Perasaan cemas menghadapi persalinan.
  6. Kurangnya dukungan dari suami dan keluarga
  7. Perasaan khawatir yang berlebihan pada kesehatan janin
  8.  Ada masalah pada kehamilan atau kelahiran anak sebelumnya
  9.  Sedang menghadapi masalah keuangan
  10.  Usia ibu hamil yang terlalu muda
  11. Adanya komplikasi selama kehamilan
  12. Terpisah dari keluarga
  13. Rasa takut yang berlebihan.
  14. Orang tua tunggal.

 

 

 

 

Faktor predisposisi:

  1. Riwayat keluarga yang memiliki penyakit kejiwaan
  2. Kurangnya dukungan dari suami dan keluarga
  3. Perasaan khawatir yang berlebihan pada kesehatan janin
  4. Ada masalah pada kehamilan atau kelahiran anak sebelumnya
  5. Sedang mengalami masalah keuangan
  6. Usia ibu hamil yang terlalu muda

 

Gejala depresi:

  1. Menunjukan lebih banyak air mata dibandingkan senyum.
  2. Makanan dan minuman nyaris tidak disentuh.
  3.  Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari
  4. Jarang mengontrol kehamilan
  5. Tidak pernah memberi stimulus terhadap janin yang dikandungnya
  6. Tidak melakukan persiapan utnuk menyambut bayi yang akan dilahirkan
  7. Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan atau tidak wajar (bisa merupakan delusi) hampir setiap hari

Selain itu, gejala di atas biasanya disertai perubahan nafsu makan dan pola tidur, harga diri yang rendah, hilangnya energi dan penurunan dorongan seksual.

Dari gejala-gejala depresi diatas juga maka dapat diketahui data-data subjektif dan objektif antara lain sebagai berikut :

1. Data Subjektif : sulit tidur, perasaan sedih dan tidak bergairah, sering menyendiri, penurunan berat badan.

2. Data Objektif : detak jantung pada ibu hamil yang mengalami depresi biasanya tidak normal. Detak jantung ibu hamil yang tidak teratur akan diterima janin sebagai sensasi getaran yang tidak biasa.

 

Bentuk- bentuk depresi:

  1. Depresi unipolar
    Merupakan gangguan depresi yang dicirikan oleh suasana perasaan depresif saja.depresi unipolar terdiri dari:
  • Depresi mayor.
  • Depresi distimia.
  1. Depresi bipolar
    Merupakan gangguan depresi yang dicirikan oleh pergantian antara suasana perasaan depresif dan mania, artinya selain depresi, di sisi lain terkadang merasa gembira.

Dampak atau pengaruh depresi terhadap kehamilan.

Permasalahan yang berkaitan dengan kondisi kejiwaan termasuk depresi, selain berdampak pada diri sendiri bisa berimplikasi atau berpengaruh tidak baik terhadap kondisi kesehatan janin yang ada di dalam kandungan. Kita semua pasti mengetahui bahwa perubahan fisik dan hormonal yang terjadi selama masa kehamilan sangat berpengaruh terhadap kondisi wanita yang sedang hamil. Depresi yang tidak ditangani akan memiliki dampak yang buruk bagi ibu dan bayi yang dikandungnya.

Ada 2 hal penting yang mungkin berdampak pada bayi yang dikandungnya, yaitu :
• Pertama adalah timbulnya gangguan pada janin yang masih didalam kandungan
• Kedua munculnya gangguan kesehatan pada mental si anak nantinya

Depresi yang dialami, jika tidak disadari dan ditangani dengan sebaik – baiknya akan mengalihkan perilaku ibu kepada hal – hal yang negatif seperti minum-minuman keras, merokok dan tidak jarang sampai mencoba untuk bunuh diri. Hal inilah yang akan memicu terjadinya kelahiran prematur, bayi lahir dengan berat badan yang rendah, abortus dan gangguan perkembangan janin. Kelahiran bayi prematur juga akan menjauhkan dekapan seorang ibu terhadap bayi yang dilahirkan , karena si bayi akan ditempatkan di inkubator tersendiri. Apalagi jika sudah mengalami depresi mayor yang identik dengan keinginan bunuh diri, bisa saja membuat langsung janinnya meninggal.Ibu yang mengalami depresi ini tidak akan mempunyai keinginan untuk memikirkan perkembangan kandungannya dan bahkan kesehatannya sendiri.

2. PSIKOSA
                

Psikosa adalah suatu gangguan jiwa dengan kehilangan rasa kenyataan ( sense of reality ) atau dengan kata lain, psikosa adalah tingkah laku secara keseluruhan dalam kepribadiannya berpengaruh tidak ada kontak dengan realitas sehingga tidak mampu lagi menyesuikan diri dalam norma-norma yang wajar dan berlaku umum.
     Tanda-tanda atau gejala-gejala psikosa yaitu :
     pada umumnya gejalanya:

  1. tidak mampu melakukan partisipasi sosial
     halusinasi.
  2. sejumlah kelainan perilaku, seperti aktivitas yang meningkat, gelisah, retardasi psikomotor dan perilaku katatonik.
  3.  sering ada gangguan lingkungan.
  4.  sosialnya membahayakan orang lain dan diri sendiri.
  5.  adanya gangguan kemampuan berpikir, bereaksi secara emosional mengingat, berkomunikasi, menafsirkan kenyataan, dan bertindak sesuai kenyataan.

Psikosa umumnya terbagi dalam dua golongan besar yaitu:
1. Psikosa fungsional
            Merupakan gangguan yang disebakan karena terganggunya fungsi sistem transmisi sinyal pengahantar saraf ( neurotransmitter ). Factor penyebabnya terletak pada aspek kejiwaan, disebabkan karena sesuatu yang berhubungan dengan bakat keturunan, bisa juga disebabkan oleh perkembangan atau penglaman yang terjadi selama sejarah kehidupan seseorang.
2. Psikosa organik
            Merupakan gangguan jiwa yang disebabkan karena ada kelainan atau gangguan pada aspek tubuh, misalnya ada tumor atau infeksi pada otak, keracunan ( intoksikasi ) NAZA.
           

 

Adapun jenis-jenis psikosa yaitu terdiri atas :
            # Skizofrenia

Skizofrenia merupakan jenis psikosa yang paling sering dijumpai. Skizofrenia pada kehamilan dapat muncul bila terjadi interaksi antara abnormal gen dengan :
(a) Virus atau infeksi lain selama kehamilan yang dapat menganggu perkembangan otak janin.
(b) Menurunnya autoimun yang mungkin disebabkan infeksi selama kehamilan.
(c) Komplikasi kandungan.
(d) Kekurangan gizi yang cukup berat, terutama pada trimester kehamilan.

Tipe-tipe dari skizofrenia :
            • Skizofrenia Simplex
Gejalanya meliputi kehilangan minat, emosi tumpul / datar, dan menarik diri dari masyarakat.
            • Skizofrenia Hebefrenik
Umumnya dialami atau timbul pada masa remaja antara 15-25 tahun dengan gejala berupa reaksi-reaksi emosional yang makin bertambah indiferen, adanya gangguan proses berpikir dan tingkah laku infantile, seperti tiba-tiba menangis atau tertawa tetapi tidak berkaitan dengan situasi yang sedang terjadi, makan secara berlebihan dan berceceran, buang air kecil atau buang air besar sembarang tempat, berpakaian seperti bayi, dsb.
            • Skizofrenia Katatonik
Penderita tipe ini menunjukkan satu dari dua pola yang dramatis, yakni ;
– Stupor
Penderita kehilangan gerak, cenderung untuk diam pada posisi yang stereotipi dan lamanya bisa berjam-jam bahkan berhari-hari, mempunyai kontak yang minimal sekali dan mutisme ( menolak untuk bicara ).
– Excitement
Penderitanya melakukan tingkah laku yang berlebihan, seperti bicara banyak tetapi tidak koheren, gelisah yang ditunjukkan dengan tingkah laku seperti mondar-mandir, melakuakan masturbasi di depan umum, bahkan menyerang orang lain, dsb.
           

 

• Skizofrenia paranoid
Penderita menunjukkan dua pola, yaitu :
– Pola skizofrenia : ditandai dengan proses berpikir kacau, tidak logis, dan mudah berubah serta delusi yang aneh
– Pola paranoid : system delusi lebih masuk akal dan logis, kontak dengan realita ( realita testing ) juga relative tidak terganggu.

 

Proses penanganan pada penderita skizofrenia yang sedang hamil, yakni:

wanita yang datang dengan pskosis pada episode pertama saat hamil harus diperiksa dengan hati-hati untuk menyingkirkan sebab organic pada psikosisnya maupun perubahan status mentalnyaPasien harus dirawat sakit bila rawat jalan tidak memungkinkan. Pada umumnya peneliti melaporkan bahwa pasien dengan menggunakan obat antipsikotik pada kehamilan tidak menunjukkan adanya kelainan pada kelahiran janin. Namun, antipsikotik hendaknya dihindarkan pada trimester I. Pada kasus yang akut dan membahayakan ibu dan janinnya, dapat dilakukan terapi elektrokompulsif. Terapik ini tidak menyebabkan persalinan, kecuali bila kehamilannya cukup bulan.
           

# Paranoid

            Paranoid ditandai adanya kecurigaan yang tidak beralasan terus menerus yang pada puncaknya bisa menjadi tingkah laku yang agresif. Emosi dan pikiran penderita masih berjalan baik dan saling berhubungan. Jalan pikiran cukup sistematis, mengikuti suatu logika yang baik dan teratur, tetapi berakhir dengan interpretasi yang menyeleweng dari kenyataan.

Adapun cara pencegahan yang dapat dilakukan pada penderita psikosa adalah dengan memperhatikan hal-hal berikut :
            • Informasi

            • ANC rutin
            • Nutrisi
            • Penampilan
            • Aktivitas
            • Relaksasi
            • Senam hamil
            • Latihan pernafasan

Sedangkan cara penanganan adalah dengan melakukan konsultasi pada dokter, bidan, psikologa atau psikiater.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh petugas kesehatan dalam menangani atau menghadapi penderita psikosa adalah :
 Sejak pemeriksaan kehamilan pertama kali tenaga medis harus dengan kesabaran meyakinkan calon ibu bahwa peristiwa kehamilan dan persalinan merupakan hal yang normal dan wajar.Ajarkan dan berikan latihan-latihan untuk dapat menguasai otot-otot, istirahat dan pernafasan. Hindari  kata-kata dan komentar yang dapat mematahkan semangat si wanita.

3. PSIKONEUROSA

Psikoneurosa atau dengan singkat dapat disebutkan sebagai neurosa saja adalah gangguan berupa ketegangan pribadi yang terus menerus akibat adanya konflik dalam diri orang bersangkutan dan akhirnya orang tersebut tidak dapat mengatasi konfliknya.Oleh karena ketegangannya tidak mereda akhirnya neurosis (suatu kelainan mental dengan kepribadian terganggu yang ringan seperti cemas yang kronis, hambatan emosi, sukar tidur, kurang perhatian terhadap lingkungan dan kurang memiliki energi).
Oleh karena itu, psikoneurosis bukanlah suatu penyakit.

Penderita psikoneurosis biasanya adalah orang yang taraf kecerdasannya cukup tinggi. Mereka cukup kritis untuk menilai situasi atau motif-motif yang saling bertentangan sehingga mereka sangat merasakan adanya konflik. Sebaliknya, orang yang tidak cukup tinggi taraf kecerdasannya, kurang kritis untuk mengerti konflik-konflik yang ada.
            Berbeda dengan gangguan psikotik, pada psikoneurosa tidak terjadi disorganisasi kepribadiaan yang serius dalam kaitannya dengan realitas eksternal. Biasanya penderita memiliki sejarah hidup penuh kesulitan, dibarengi tekanan-tekanan batin dan peristiwa yang luar biasa. Atau mengalami kerugian psikis yang besar sekali, karena terampas dari lingkungan sosial yang baik kasih sayang sejak usia yang sangat muda. 

            Proses pengkondisian yang buruk terhadap mental pasien itu menumbuhkan simpton-simpton mental yang patologis atau menimbulakan macam-macam bentuk gangguan mental.
            Dengan demikian, gejala atau karakteristik dari penderita psikoneurosa diantaranya :

  • penderita tidak mampu mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya,
  • tingkah lakunya jadi abnormal dan aneh-aneh serta penderita biasanya tidak mengerti dirinya sendiri dan membenci pula diri sendiri.

Bentuk-bentuk psikoneurosa :
– Anxiety neuroses atau neurosis kuatir
– Histeria ( histeris )
– Neurosis Obsesif Kompulsif

Sebab-sebab yang utama penyakit psikoneurosa atau lebih popular disingkat dengan neurosa, antara lain ialah:

factor-faktor psikologis dan cultural, yang menyebabkan timbulnya banyak stress dan ketegangan-ketegangan kuat yang khronis pada seseorang. Sehingga pribadi mengalam frustasi dan konflik-konflik emosional dan pada akhirnya mengalami satu mental breakdown.

 

 

 

Sebab-sebab lainnya adalah diantaranya :
1. Ketakutan terus menerus dan sering tidak rasional. Misalnya : bagi ibu hamil, takut memikirkan terus sakitnya melahirkan.
2. Ketidakseimbangan pribadi
3. Konflik-konflik internal yang serius, khususya yang sudah diimulai sejak masa kanak-kanak.
4. Kurang adanya usaha dan kemauan
5. Lemahnya pertahanan diri ( memakai defence mechanism yang negative ).

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: